|
Kapasitas Resiliensi Petani Bawang Putih Kabupaten Lombok Timur Menghadapi Kebijakan Impor a) Head of Research Group in Agricultural Policy Science, Universitas Mataram Abstract Abstrak. Implementasi kebijakan swasembada bawang putih di Kabupaten Lombok Timur menghadapi ancaman serius dari membanjirnya bawang putih impor yang potensial mempengaruhi resiliensi petani di tengah tingginya biaya produksi bawang putih. Penelitian dilakukan menggunakan Metode Survey Deskriptif sedangkan analisis data dilakukan dengan The Resilience Indicators for Measurement and Analysis (RIMA) yang dikembangkan oleh FAO. Indeks kapasitas resiliensi disusun berdasarkan empat pilar, yaitu: (i) akses terhadap layanan dasar- (ii) penguasaan aset dan sarana produksi- (iii) jaring pengaman sosial- dan (iv) kapasitas adaptasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas resiliensi petani bawang putih di Kabupaten Lombok Timur berada pada kategori sedang. Faktor pengungkit resiliensi yang dominan adalah keberadaan program pengembangan bibit bawang putih untuk dataran tinggi. Selanjutnya adalah kemudahan akses untuk mendapatkan layanan kebutuhan dasar, dan kebiasaan petani melakukan pertanaman ganda pada lahan yang dikuasai (multiple cropping). Peningkatan kapasitas resiliensi dapat dilakukan dengan memperkuat organisasi petani agar pengurus dan anggota memiliki pengetahuan dan keterampilan yang cukup tidak hanya terkait persoalan teknis budidaya, pemasaran, dan pascapanen tapi juga menyangkut kebijakan pengembangan bawang putih secara keseluruhan. Keywords: Resiliensi, bawang putih, Lombok Timur Topic: Agricultural Socio-economics |
| ICEFS 2024 Conference | Conference Management System |